๐Ÿซ Lebih Baik Menyalakan Lilin Daripada Mengutuk Kegelapan

BerandaGaya Hidup Komunitas Lebih Baik Nyalakan Lilin Daripada Mengutuk Gelap FAJAR Pendidikan Oleh: Fajar Pendidikan Juli 23, 2018 Sekolah Kolong Project Makassar, Desa itu letaknya cukup jauh dari pusat kota. Bila ingin berkunjung, Anda harus berjalan kaki 2 jam lamanya. WARTA KOTA, PALMERAH - โ€œIt is better to light a candle than curse the darkness.โ€ Peribahasa tersebut secara harfiah memiliki arti โ€œLebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuk kegelapanโ€. Peribahasa ini telah terkenal sekali di seluruh dunia. Presiden Amerika John F Kennedy pun pernah menggunakan dalam pidatonya. Di Indonesia, peribahasa ini pun kembali terkenal semenjak Anies Baswedan menggunakannya sebagai tagline dalam program Indonesia Mengajar. Sebuah program yang mengirimkan sarjana-sarjana pintar ke pelosok Indonesia untuk membantu peningkatan mutu pendidikan di negara ini. Dalam konteks pemerintahan daerah, penulis begitu tergelitik ketika salah satu pemimpin daerah di negeri ini menyampaikan hal tersebut sebagai motto dalam menjalankan pemerintahannya. Dalam sebuah apel pagi dan berita media lokal, KH DR M Idris Abdul Somad, Wakil Walikota Depok 2011-2016 dan Walikota Depok terpilih 2016-2021 begitu gamblang mengulas tentang peribahasa tersebut hingga menginspirasi para peserta apel pagi termasuk penulis. Rupanya materi peribahasa ini menjadi bahan diskusi inspiratif dan solutif bagi kita semua warga yang kini tengah menantikan kiprah kepemimpinan para pemimpin daerah. Pilkada serentak kini telah kita lalui. Beragam fenomena, dinamika, paradigma dan spektrum politik dapat menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua. Salah satu paradigma yang masih sering terjadi adalah budaya dan kesenangan kita yang selalu mengeluh, mencaci, merasa tidak puas, menyalahkan bahkan โ€œmengutukโ€ kebijakan pemimpin tanpa memberikan solusi dan tidak menyelesaikan masalah tersebut. Dalam hidup bermasyarakat, kita begitu mudah menyalahkan orang lain atas kekurangan yang ada dalam hidup ini. Tapi seringkali kita lupa bercermin kalau kita belum berbuat sesuatu untuk hidup ini, atau ketika ada masalah kita selalu menyalahkan faktor eksternal. Tanpa kita sadari apa yang kita lakukan tersebut takkan bisa mengubah situasi. Kita cuma ibarat komentator sepakbola yang sebenarnya juga tak bisa bermain bola dengan baik. Tidak sedikit dari kita yang tersibukkan dengan mengamati pekerjaan orang lain, bukan untuk mengambil ibroh/pelajaran atau membantu menyelesaikan pekerjaannya tetapi justru untuk menunggu kapan orang itu terpeleset dalam kekeliruan atau melakukan kesalahan sehingga ia bisa segera mengkritik dengan kritikan yang tidak jarang melebihi batas yang proporsional. Mengecam pekerjaan orang tanpa memberinya solusi juga tidak jarang hanya akan merenggangkan persaudaraan. Tidaksedikit dari kita yang tersibukkan dengan mengamati pekerjaan orang lain, bukan untuk mengambi
โ€“ โ€œIt is better to light a candle than curse the darknessโ€ Peribahasa tersebut secara harfiah memiliki arti โ€œLebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuk kegelapanโ€. Peribahasa ini telah terkenal sekali di seluruh dunia. Presiden Amerika John F Kennedy pun pernah menggunakan dalam pidatonya. Di Indonesia, peribahasa ini pun kembali terkenal semenjak Anies Baswedan menggunakannya sebagai tagline dalam program Indonesia Mengajar. Sebuah program yang mengirimkan sarjana-sarjana pintar ke pelosok Indonesia untuk membantu peningkatan mutu pendidikan di negara ini. Dalam konteks Pemerintahan Daerah, penulis begitu tergelitik ketika salah satu Pemimpin Daerah di negeri ini menyampaikan hal tersebut sebagai motto dalam menjalankan Pemerintahannya. Dalam sebuah pertemuan dengan masyarakat, KH DR M. Idris Abdul Somad Wakil Walikota Depok 2011-2016 dan Walikota Depok terpilih 2016-2021 begitu gamblang mengulas tentang peribahasa tersebut hingga menginspirasi masyarakat yang hadir termasuk penulis. Rupanya materi peribahasa ini menjadi bahan diskusi inspiratif dan solutif bagi kita semua warga yang kini tengah menantikan kiprah kepemimpinan para pemimpin daerah yang akan dilantik di daerahnya masing-masing. Pilkada serentak, kini telah kita lalui. Beragam fenomena, dinamika, paradigma dan spektrum politik dapat menjadi pembelajaran berharga bagi kita semua. Salah satu paradigma yang masih sering terjadi adalah budaya dan kesenangan kita yang selalu mengeluh, mencaci, merasa tidak puas, menyalahkan bahkan ?mengutuk? kebijakan pemimpin tanpa memberikan solusi dan tidak menyelesaikan masalah tersebut. Dalam hidup bermasyarakat, kita begitu mudah menyalahkan orang lain atas kekurangan yang ada di hidup ini. Tapi seringkali kita lupa bercermin kalau kita belum berbuat sesuatu untuk hidup ini, atau ketika ada masalah kita selalu menyalahkan faktor eksternal. Tanpa kita sadari apa yang kita lakukan tersebut takkan bisa mengubah situasi. Kita cuma ibarat komentator sepakbola yang sebenarnya juga tak bisa bermain bola dengan baik. Tidak sedikit dari kita yang tersibukkan dengan mengamati pekerjaan orang lain, bukan untuk mengambil ibroh/pelajaran atau membantu menyelesaikan pekerjaannya tetapi justru untuk menunggu kapan orang itu terpeleset dalam kekeliruan atau melakukan kesalahan sehingga ia bisa segera mengkritik dengan kritikan yang tidak jarang melebihi batas yang proporsional mengecam pekerjaan orang tanpa memberinya solusi juga tidak jarang hanya akan merenggangkan persaudaraan. Padahal agama telah mengajarkan kita bahwa Beruntunglah orang yang disibukkan dengan mengintrospeksi aib dirinya sehingga tidak sempat mencari-cari aib saudaranya. Mengutuk, meratapi, mengeluh, menyalahkan atau apapun istilah lainnya dengan konotasi yang sama memang mudah dilakukan. Tapi persoalannya kini, apakah setelah kita mengutuk sesuatu maka keadaan itu langsung berubah? Dari pengalaman hidup kita, mengeluh tidak mendatangkan apa-apa kecuali ketenangan batin yang semu. Ibaratnya ketika menutup mata, semua bayangan dunia menjadi tak terlihat termasuk dengan problema yang kita alami, namun dunia akan tetap sama entah ketika menutup atau membuka mata. Jika di suatu malam listrik di rumah kita mati apa yang akan kita lakukan? Apa kita akan menggerutu dan mengutuk PLN yang melakukan pemadaman? Jika begitu, apa kondisi berubah? Tentu tidak, yang ada kita capek sendiri. Tentu yang harus kita lakukan adalah menyalakan lilin. Walaupun tak seterang lampu, tapi setidaknya dengan menyalakan lilin kita masih bisa melihat seisi ruangan walau redup. Ibaratnya ketika kita berada dalam kegelapan, sampai berbusa mulut kita mengumpat dan mengutuk, tak akan ada perubahan sampai kita menyalakan sebatang lilin atau alat penerangan lainnya. Berbuat lebih baik daripada sekedar berkata-kata, walaupun dengan kata-kata itu hati dan pikiran cenderung menjadi tenang karena emosi sedikit tersalurkan tetapi jauh lebih baik dan berbahagia kalau masalah itu bisa kita selesaikan sendiri. Walaupun sebatang lilin kecil yang menyala, itu sudah cukup membuat perbedaan dibandingkan kita berdiam diri dalam kegelapan. Menyalakan lilin mungkin contoh yang sederhana, simple dan tak terlalu merubah banyak. Tapi setidaknya berkontribusi memberikan cahaya di tengah kegelapan. Dalam hidup pun rasanya kita harus memberikan cahaya walau bentuknya sederhana, entah lewat tenaga, materi, atau ide. Mari kita sambut kiprah para pemimpin daerah dengan menjadikan diri kita masing-masing sebagai lilin-lilin yang mampu menerangi bagian dari ruang kerja dan kehidupan yang sesuai kapasitas dan sekuat kemampuan yang kita miliki. Insya Allah dari satu lilin, seratus atau seribu lilin tersebut bisa menerangi seluruh ruang hidup kita. Mengutuk kegelapan tidak akan menjadikan gelap sirna tetapi justru menambah pengapnya suasana hati. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa salah satu kunci kebahagian hati di dunia adalah dengan selalu pandai bersyukur. Sikap syukur yang paling sederhana, mudah, ringan tapi agak sulit dilakukan adalah ?tidak pernah mengeluh dalam keadaan apapun di semua lini kehidupan kita?. Muhammad Fahmi, ST, MSi Pemerhati masalah Sumber Daya Manusia dan masalah Tematik Bangsa Kandidat Doktor Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Negeri Jakarta UNJ Master of Ceremony MC, Trainer Publik Speaking/Kehumasan Salam Merah Mempesona Menggelitik Hati fahmizidane2003 WA 08158228009
MotivasiHari ini, esok dan seterusnya. Lebih baik menyalakan lilin "daripada mengutuk kegelapan;
Di Indonesia kata-kata ini juga sudah banyak yang mengutip, entah jadi kata pembuka di sebuah pidato atau dijadikan Quotes, seperti misalnya saya gunakan jadi tagline di blog ini.'Kenapa memilih kata-kata itu ? Kenapa bukan bikin kata-kata sendiri' protes seorang kawan. Jawabannya simpel. Saya berharap tulisan-tulisan di blog ini bisa menjadi seperti sebuah lilin yang sedang saya nyalakan untuk menerangi siapa saja yang mau mampir dan membaca KataTatas percaya tulisan-tulisan ini akan menemukan sendiri pembacanya. Seringkali bahkan tanpa disadari saya, sampeyan dan mereka sedang berubah dan bertumbuh menuju generasi pengeluh. Sedikit-sedikit mengeluh....sedikit-sedikit nyinyir...sedikit-sedikit mengutuk...menyalahkan pasangan, menyalahkan orang lain, menyalahkan pemerintah...atau bahkan menyalahkan Tuhan ? Mengeluh koq sedikit-sedikit, kalo kata Cak rupa dan masalah atau urusan remeh temeh seperti cucian belum kering terus tiba-tiba hujan, jalanan yang becek dan gak ada ojek, bahkan sampe urusan lunturnya maskara karena keringetan akibat sepedaan, bisa membuat otak kram dan berpotensi berubah jadi keluhan kutukan.Mengutuk, meratapi, mengeluh atau apapun istilah lainnya dengan konotasi yang sama mungkin memang menyenangkan bagi sebagian besar orang. Banyak orang merasa lepas dan lega setelah mengeluarkan semua kosakata keluhan dan sumpah serapah dari mulutnya atau bahkan dari jempol-jempolnya lewat status dan komentar di media tunggu dulu, apakah setelah kita mengutuk sesuatu lalu keadaan itu langsung berubah? Dari pengalaman hidup kita, mengeluh tidak mendatangkan apa-apa kecuali kepuasan batin yang ketika menutup mata, semua bayangan dunia menjadi tak terlihat termasuk dengan problema yang kita alami, namun dunia akan tetap sama saja entah ketika menutup atau membuka mata. Sama seperti orang yang mabuk minuman keras atau yang pakai narkoba, pada saat dia mabuk dan gak sadar terus meracau, ngoceh dan blank seakan hilang semua masalah dan problem yang dialaminya. Tapi ketika kembali sadar sober, masalah dan problem yang dihadapi tidak terus selesai begitu saja, bahkan kadang malah tambah masalah baru akibat dari mabuknya itu. Akhirnya karena dia merasa bisa bersembunyi dari masalah dengan cara mabuk, ya si pemabuk itu mabuk lagi...begitu aja hidupnya. Jadinya ya ketika saya, sampeyan dan mereka ada dalam suatu masalah, maka yang dicari adalah seseorang...sesuatu atau bahkan sesekor kambing hitam dari munculnya masalah tersebut. Dalam menghadapi masalah, seringkali saya, sampeyan dan mereka bukan mencari solusi untuk mengatasi masalah. Kita lebih cenderung menyalahkan kondisi, menyalahkan diri sendiri, menyalahkan semuanya, lantas marah-marah pada sekitarnya atau bahkan mencoba lari dari misalnya saat saya terjerembab dalam lubang hutang yang tak berkesudahan. Hidup dan kerja cuma gali lubang untuk menutup lubang yang lain, tanpa mau berpikir bahwa kalo besar pasak daripada tiang ya berarti tiangnya yang harus diperbesar...entah bagaimana caranya. Atau solusi lainnya ya mengecilkan pasaknya agar muat dan cocok di itu.....seringkali baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Ibaratnya ketika kita sedang berada dalam kegelapan malam, yang kita butuhkan adalah cahaya penerang. Maka nyalakanlah cahaya itu, walo cuma sebatang lilin, bukan hanya malah sibuk ngegulutuk, mengumpat, merutuk sampai mulut berbusa tanpa melakukan situasi saat ini, kegelapan sedang menggelayut di seluruh dunia, akibat Pandemi Covid-19. Banyak sektor usaha menarik rem darurat. Ada yang shifting bidang usaha, ada yang berusaha menekan pengeluaran, bahkan tak sedikit juga yang tumbang dengan mengorbankan puluhan juta pekerja yang kehilangan pekerjaannya. Terus apakah kita mesti berlarut-larut mengutuki kegelapan Pandemi ini ?Mencari jalan keluar yang baik dari setiap persoalan akibat Pandemi ini adalah pilihan yang bisa dilakukan siapa saja. Jika semua orang mau menempuh pilihan ini niscaya kita akan hidup dalam dunia yang terang benderang. Lakukan apa yang bisa dilakukan, misalnya melakukan shifting bidang usaha dari yang tadinya membuat produk konveksi dan jasa menjahit, bisa kemudian beralih jadi produsen masker. Dari yang tadinya gadget dan smartphonenya cuma digunakan untuk eksis di media sosial, merubah perilakunya dengan membuat karya tulisan, video, gambar, animasi atau apa saja yang bisa dipasarkan secara online. Saya sudah pernah menuliskan beberapa artikel yang bisa sampeyan coba, seperti artikel 'Menjual Photo di Shutterstock' atau membuat produk-produk yang pernah saya tuliskan, misalnya 'Memodifikasi Dispenser Elektrik Yang Bebas Sentuh' atau cuma pengin cara yang instan tapi lama dapet duitnya seperti artikel 'Nonton Video Lucu Dibayar Dollar di Clipclaps'.Mengutuk, mengumpat, memaki, adalah tindakan yang paling mudah dilakukan, apalagi pada saat kita berada dalam kegelapan. Tapi apakah tindakan itu ada manfaatnya? Sama sekali tidak ada, kecuali hanya menambah kegaduhan dan kesulitan. Tapi, apakah mencari jalan keluar dari setiap kerumitan itu selalu sulit? Jawabannya iya bagi mereka yang suka mengeluh pesimistis, tapi tidak bagi mereka yang tidak suka mengeluh optimistis. Belum dicoba ngerjain udah bilang susah ah....gak bisa ah...males ah. Ya sudah kembali tidur aja lagi sana....Optimis dan selalu mencoba melihat sisi positif dari segala kejadian bisa merubah kesempitan menjadi sebuah kesempatan. Contoh yang paling gampang sampeyan lihat adalah banyaknya artis-artis dan entertainer negeri ini yang kemudian berebut di celah sempit membangun Kanal Youtube-nya. Kita sama-sama paham bahwa semenjak Pandemi, dunia entertainer terpukul sedemikian hebat dan mungkin akan paling lama terimbas. Kawan lama saya yang tadinya dancer kelas internasional yang biasa melanglang buana menggelar pertunjukkan di luar negeri saat ini menganggur dan jobless. Tidak ada panggilan manggung atau sekedar menjadi penari latar pertunjukan artis lokal. Kemudian dia mencoba iseng bikin-bikin kue, lalu ditawarkan ke teman-teman terdekatnya, temannya membantu menawarkan ke teman yang lain, begitu seterusnya hingga lingkaran pemasaran produk kue-nya semakin membesar. Hingga kini dia bisa survive di tengah Pandemi ini, menunggu saatnya dunia entertain menggeliat bangun mengeluh, terutama pada saat berbicara di hadapan publik. Entah mengeluh pada keluarga, saudara atau teman sekitar sampeyan. Menurut ahli ilmu jiwa psikolog pesimisme bisa menular. Orang yang suka mengeluh di depan umum, tidak hanya buruk bagi dirinya, ia juga destruktif bagi lingkungannya. Si pengeluh bisa seperti berita kematian yang bisa menebarkan duka cita keseluruh penjuru. Atau bahkan seperti epidemi yang mudah tersebar, membuat banyak orang tertular wabah penyakit. Ketika seseorang sering mengeluh tentang apa saja awalnya akan membuat orang sekitarnya sebal mendengar keluhan dan keluhan saja setiap hari, lalu mulailah orang yang mendengar keluhan ini mengeluhkan situasinya ke temannya...begitu seterusnya sehingga lingkaran keluhan akan semakin membesar dan akhirnya semua orang menjadi pengeluh yang tanpa sesuatu, selalu berusaha untuk berbuat yang terbaik walau sekecil apa pun. Tidak perlu berbuat sesuatu yang maksimal, spektakuler dan berdampak luas. Berbuatlah sesuatu dengan kekurangan dan kelebihan yang kita punya. Jangan memaksakan diri untuk berbuat sesuatu yang kita tidak mampu melakukannya, tapi lakukanlah sesuatu yang bisa kita lakukan. Jika kita terlalu sibuk ingin berbuat sesuatu yang sempurna dan dampaknya besar seringkali akhirnya kita malah tidak jadi berbuat apa-apa...cuma rencana, rencana dan rencana tanpa implementasi. Kalo sudah begitu, hanya mimpi dan rencana saja terus apa gunanya ?Winston Churchill 1874-1965, Perdana Menteri Inggris pernah mengatakan 'The pessimist sees difficulty in every opportunity, the optimist sees the opportunity in every difficulty'. Termasuk yang manakah sampeyan saat ini, mau ikut golongan orang yang pesimistis atau optimistis? Mau menyalakan sebatang lilin, atau mau terus menerus mengutuk kegelapan?
\n\n \n \nlebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan
Tentusebagian dari Anda sudah sering mendengar ungkapan, "Daripada mengutuk kegelapan lebih baik menyalakan lilin." Dari pada mengutuk kehadiran MEA lebih baik menyiapkan diri untuk bisa memenangkan persaingan. Asahlah terus keahlian yang sudah kita miliki, terus berusaha menjadi 10 terbaik di bidang yang kita tekuni. Ketiga, berkolaborasi
Lilin dan Kegelapan By Dimas Prakoso โ€œLebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.โ€ โ€“ Eleanor Roosevelt Mengutuk kegelapan terkadang hanya dilakukan oleh orang-orang yang banyak menghabiskan waktunya untuk mengeluh tanpa ada aksi lebih lanjut. Lebih baik skip waktu untuk mengeluhnya dan mulai bertindak dengan menyalakan lilin. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah dan memberikan apa yang kita inginkan, soalnya. Terima kasih telah mengingatkan tentang ini, Eleanor Roosevelt.
\n \nlebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan
DaripadaMengutuk Kegelapan lebih baik menyalakan lilin Sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19. Wabah ini membuat roda perekonomian di sektor UMKM tersendat. UMKM selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan. Bertuhan dimusuhi karena Tuhannya beda. Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda. Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda. Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda. Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya berbeda. Partainya sama dimusuhi karena pendapatnya beda. Apa kamu mau hidup sendirian dimuka bumi untuk memuaskan nafsu keserakahan?โ€“ Gus Mus Akhir-akhir ini, menjelang kontestasi pemilihan Presiden 2019 yang akan datang. nampaknya sebagian dari kita sering dihadapkan pada situasi saling membenci hate speech antar sesama, entah berbagai motif dihadapkan. Mulai dari benci yang bermula dari perbedaan cara beragama, perbedaan etnis sampai pada perbedaan dalam pilihan politik. Terlepas dari itu, yang menjadi persoalan, apakah dengan perbedaan-perbedaan yang demikian itu harus kita sikapi dengan kebencian?. Sebagai contoh misalnya,kita lihat tindakan persekusi yang terjadi di bundaran Hotel Indonesia HI pada bulan Mei kemarin 5/18 bentrokan antara massa yang menggunakan kaos bertagar dia sibuk bekerjaโ€™ dan yang bertagar 2019 ganti presidenโ€™. Entah bagaimanapun persoalan ini dinarasikan, tetap ini merupakan pemandangan yang sungguh tidak mengenakan tentunya bagi kita . Tidak cukup sampai disitu, sebagian dari kita bahkan seakan tidak mau menerima perbedaan tersebut, lanjut menjadi sebuah Fitnah, cacian dan makian yang tentunya tidak ingin kita harapkan kehadirannya. Kini, kata munafikโ€™ dan dunguโ€™ menjadi sebuah term yang sangat familiar untuk didengar sehari-hari. Sebenarnya jika kita ingin menelisik lebih dalam, bagaimana persoalan kebencian ini didudukan. Kita akan mendapati logika semacam wilayah hitam putih. Setiap kebenaran yang kita yakini akan kita anggap putih, dan selain dari putih itu berwarna hitam. Sulit bagi kita, untuk menganggap bahwa ternyata ada warna lagi selain dari duaโ€™ ini. Yang Perlu Diperhatikan dalam Ber-amar-maโ€™ruf-nahi-munkar Sesungguhnya kebenaran itu sebuah kaca besar yang dipegang Tuhan, lalu jatuh ke bumi dan berpecah belah, manusia satu per satu memegang pecahan itu dan menganggapnya sebagai kebenaran secara utuh- Jalaludin Rumi Secara tidak langsung Rumi ingin mengatakan bahwa tidak ada kebenaran yang sejati kecuali yang dipegang oleh Tuhan. Mungkin, sebagian dari kita boleh-boleh saja untuk merasa benar, tetapi tidak dengan merasa paling benar. Berbicara tentang kebenaran, agama menawarkan konsep Amar Maโ€™ruf Nahi Munkar di dalam wilayah saling mengingatkan kebenaran satu sama lain. Lanjut, lebih spesifik Amar Maโ€™ruf Nahi Munkar lebih dititik-fokuskan dalam mengantisipasi maupun menghilangkan kemunkaran, dengan tujuan utamanya menjauhkan setiap hal negatif di tengah masyarakat tanpa menimbulkan dampak negatif yang lebih besar. Ketika kita Menerapkan Amar Maโ€™ruf Nahi Munkar mungkin mudah dalam batas tertentu tetapi akan sangat sulit apabila sudah terkait dengan konteks bermasyarakat dan bersosial. Oleh karena itu orang yang melakukan Amar Maโ€™ruf Nahi Munkar harus mengerti betul terhadap perkara yang akan ia tindak, agar tidak salah dan keliru dalam bertindak. Yang menjadi sebuah catatan tersendiri adalah ketika kita ber-nahi-munkar. Bisa jadi, kita menganggap itu adalah sebuah perbuatan yang munkar menurut pemahaman yang kita miliki, tetapi ternyata tidak jika menurut orang lain. Ternyata perbuatan Nahi Munkar tidak bisa kita laksanakan semudah yang kita bayangkan. Ada beberapa ketentuan-ketentuan yang harus kita miliki sebelum melaksanakannya. Di dalam kitab Tanbiihul Ghafiliin karangan Ibnu An Nahas, kitab al Amru bil maโ€™ruf wa an-nahyu anil munkar karangan al-Qadhy abu yaโ€™la juga kitab al-adabu syariโ€™yah karangan Ibnu Muflih dikatakan bahwa ada empat syarat yang harus menjadi perhatian kita sebelum melaksanakan perbuatan Nahi munkar, empat syarat tersebut adalah Perbuatan tersebut benar-benar suatu kemungkaran kecil atau besar Kemungkaran tersebut masih ada Kemungkaran tersebut nyata tanpa dimata-matai Kemungkaran tersebut bukan termasuk perkara Khilafiyah Jadi jelas disini, ada sebuah wilayah dimana kewajiban ber-nahi munkar seketika gugur apabila perbuatan yang dimaksud masih bersifat khilafiyah. Banyak sekali dari kita, yang sangat bersemangat sekali di dalam mengingatkan perbuatan dosa kepada saudara kita. Padahal apa yang diingatkan tersebut masih berupa khilafiyah menurut para ulama. Mirisnya, tidak hanya berhenti disitu, perbuatan khilafiyah tersebut di kemudian malah bermetamorfosa menjadi sebuah perkara yang harus disikapi dengan kebencian dan kemarahan. Semua mengatakan pihaknya yang paling benar sementara pihak yang lain sesat, kafir dan munafik dan -lagi-lagi- semuanya berlindung dibelakang nama Amar Maโ€™ruf Nahi Munkarโ€™. Rasulullah Tidak Mau Umatnya Saling Melaknat dan Mencela Dengan hadirnya pemandangan-pemandangan dimana sesama Muslim seakan saling beradu kemarahan dan kebencian, sejenak kita bisa merenung apakah memang ajaran jungjungan kita baginda Nabi Muhammad Saw memang demikian adanya?. Jika kita mau menelisik sedikit, ada Sekian banyak hadits Nabi Saw menganjurkan kepada umatnya untuk tidak saling melaknat dan mencela kepada sesama, diantaranya hadis yang berbunyi bahwasanya Nabi Saw bersabda โ€œMencela seorang Muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiranโ€ HR Bukhari dan Muslim Juga hadis yang berbunyi Dari Abu Hurairah, ia berkata, dikatakan kepada Rasulullah Saw โ€œYa Rasulullah, berdoalah celaka atas orang-orang Musyrik !โ€ beliau bersabda โ€œSesungguhnya aku tidak diutus sebagai tukang laknat, tetapi aku diutus sebagai Rahmatโ€ HR Muslim Dari kedua hadis ini, tentunya kita bisa menyimpulkan bagaimana seharusnya kita bersikap kepada sesama makhluk Allah Swt. Salah satu ulama kharismatik asal Tanggerang, Habib Jindan bin Novel dalam ceramahnya mengenang Maulid Nabi di Istana kepresidenan pada tahun lalu, menjelaskan bahwa hadis yang kedua ini berlangsung dalam konteks ketika Rasulullah dalam keadaan peperangan. Bayangkan, dalam keadaan kondisi seperti demikian pun, Rasulullah tetap enggan melaknat orang-orang Musyrik tersebut. Padahal orang-orang Musyrik tersebut lah yang membunuh saudara-saudara Muslim pada saat itu. Selanjutnya, kita pun bisa menyimpulkan, kalau Rasulullah saja enggan dalam melaknat seorang Musyrik, apalagi melaknat kepada sesama Muslim?. Belakangan ini, nampaknya sering kita dihadapkan pada suasana betapa mudahnya kata โ€œmunafikโ€,โ€dunguโ€ sampai โ€œkafirโ€ dilontarkan, baik itu dari kalangan muslim kepada nonmuslim, atau pun dari muslim kepada muslim lagi. Mirisnya, mereka-mereka yang melontarkan ini, selalu berlindung dibelakang kata menegakan agamaโ€™, padahal agama mana yang mengajarkan untuk mencela kepada sesama. Yang semestinya menjadi catatan, Seorang yang selalu melakukan maksiat pun tidak semestinya untuk dicela, dimaki, dan dihujat sedemikian rupa. Mereka-mereka ini adalah orang kehilangan cahaya keagamaan, berada pada kegelapan yang nyata, jika kita menghujat mereka, tidak akan lahir kesadaran keagamaan di dalam diri mereka, sebab apa? Yang ada didalam hati mereka hanya lah prasangka yang buruk terhadap citra agama kita. Jika anda ingin berdakwah dengan sasaran seorang pencuri, apakah perlu untuk mengatakan kepadanya bahwa โ€œanda adalah seorang pencuri!โ€ atau โ€œdasar pencuri!โ€?. Tentunya hal seperti itu adalah hal yang tidak perlu bukan?, bukan ajaran Agama yang sang pencuri terima, yang ada pencuri malah kabur menjauh dari kita. Kegelapan ada tidak untuk dihujat, tapi untuk diberi penerangan. Kalau kita sedang berada pada sebuah ruangan yang gelap gulita, tidaklah akan membawa perubahan pada kondisi yang lebih baik jika kita terus menerus mengeluh dan membenci kegelapan, ambilah lilin kesana untuk membawa pada keadaan yang lebih baik. [zombify_post] Sepertiungkapan "Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin", kata Sani (sapaan akrab Triwisaksana), masyarakat tidak boleh berpangku tangan dan berdiam diri menyaksikan keadaan seperti ini, karenanya perlu sikap patriotisme dan semangat kepahlawanan untuk ikut berjuang membantu pemerintah dan membangun harapan publik.
ALAT bangun peradaban dalam dunia ketiga adalah satu, sadar baca-tulis. Sentuhan jemari dalam tulisan ini akan bermuara pada satu pembahasan, menggagas ke depan. Apa yang perlu digagas? Siapa yang harus mengawal? Agaknya tulisan ini Sedikit terdengar seperti nada bicara seorang pengidap asma yang berbau utopis. Tidak masalah. Bukankah perubahan-perubahan besar dalam dunia praktis berawal dari ide dan pemikiran; gagasan dan kemauan besar untuk berubah dan mewujudkan. Steve Covey aku-lirik dengan kalimatnya yang seperti berbau sarkasme tercium seperti berikut, โ€œApa yang akan kau tinggalkan di antara kedua patok nisanmu?โ€, atau kutipan dari penyair nasional dari Jombang, Sabrank Suparno dengan puisinya yang berucap, โ€œPenulis tak akan lenyap dari dunia, sebaliknya dunia bisa lenyap dalam diri penulis.โ€ Maka tamsil yang lahir dari kedua kutipan tersebut adalah hal sangat mungkin bila kita kontekskan bagi masyarakat Nahdlatul Ulama NU dalam upaya pengembangan kebudayaan dan peradaban. Pendek kata, warga NU sudah semestinya kembali dan kembali memaksimalkan sadar baca-tulis, SABTU. Sebab hal ini secara umum akan menjadi wasilah kebudayaan yang berpotensi mengangkat inteligensi dalam peradaban manusia. Tentu kekuatan pergulatan budaya Sabtu memiliki filosofi yang menghistoris. Pentingnya budaya baca-tulis dalam kehidupan NU menjadi tantangan dan peluang besar yang โ€“mungkinโ€”akan berkontribusi atas perubahan kebudayaan di Indonesia. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyโ€™ari misalnya, aku-lirik memiliki kebiasaan membaca dan menulis yang luar biasa. Mengapa kita tidak membaca dan menulis? Kita sering mengagumi beliau tetapi lupa mengikuti kebiasaan beliau yang luar biasa dampaknya terhadap peradaban Islam dan Indonesia. Berkaca pada Jepang, Eko Laksono dalam banyak tulisannya berucap, โ€œBangsa Jepang adalah pembaca terhebat di dunia. Elizabeth I, Napoleon, Hitler, Carnegie, Akio Morita, dan Bill Gates semuanya pembaca.โ€ Di Jepang, antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan keluarga bergerak bersama untuk membudayakan baca-tulis. Tradisi ujian nasional misalnya, di Jepang justru merupakan budaya yang dinanti bukan sebaliknya dipersoalkan. Saat itulah, maka anak-anak usia 12-13 tahun belajar keras sampai larut malam, sampai-sampai tidur dalam semalam hanya 2-3 jam per hari. Itu pun, berlangsung hampir tiga bulan. Ujian nasional di Jepang dikenal dengan nama Shiken Jigoku Neraka Ujian. Belum lagi, ibu-ibu di Jepang meskipun mereka terdidik rata-rata sarjana bahkan sampai bergelar doktor, lebih memilih mendampingi anak-anak belajar di rumah. Di Jepang dikenal dengan apa yang disebut Kyoiku Mama Ibu Pendidikan. Mereka akan meneliti dengan cermat apa yang telah dipersiapkan, dilakukan, dan dihasilkan oleh anak-anaknya. Mereka mempelajari bahan-bahan pelajaran sekolah dan mendampingi anak. Mari belajar budaya baca-tulis bangsa Jepang. maka ada pokok-pokok pengalaman yang aku-lirik sangat menarik. Pertama, budaya membaca di Jepang luar biasa. Indikasinya, banyak toko buku yang tersebar. Ini terkait dengan sifat tekun, pekerja keras, dan keinginan untuk selalu belajar. Jumlah toko buku di Jepang sama banyaknya dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat AS. Ironisnya, negeri adidaya itu 26 kali lebih luas dan dua kali berpenduduk lebih banyak daripada Jepang. Kedua, kuatnya tradisi belajar dan membaca. Keinginan selalu belajar telah tertanam kuat pada warga Jepang. Ini didasarkan pada kebiasaan i sifat selalu memperbaiki hasil kerja, dan ii adanya budaya baca-tulis yang mengakar besar di Jepang. Negeri Sakura menyediakan banyak fasilitas membaca di tempat umum. Di stasiun, bus umum, kereta, atau halte, antre di kantor-kantor pelayanan masyarakat, mudah ditemui orang-orang yang beraktivitas membaca. Ketiga, kuatnya dukungan fasilitas membaca. Fasilitas baca-tulis mudah dijangkau oleh warga Jepang. Kebahagiaan bagi penulis dan penerbit buku. Ternyata, sesuai dengan data yang dirilis Bunka News, jumlah toko buku bekas menempati persentase sepertiga di antara total jumlah toko buku di Jepang. Keberadaannya dinilai sebagai penolong bagi para peminat buku. Keempat, keluarga sebagai penyangga tradisi baca-tulis. Sebagaimana telah disinggung di awal, bahwa orang tua di Jepang khususnya ibu mendampingi dan ikut mempelajari apa yang sedang dipelajari anaknya. Alangkah indahnya jika ini terjadi di Indonesia. Kelima, penghargaan yang tinggi oleh pemerintah dan masyarakat. Kondisi demikian menjadi sangat penting mengingat budaya baca-tulis Jepang itu telah mengakar dari atas ke bawah. Baik itu pemimpin, birokrat, guru, dosen, artis, dan pelaku seni lainnya; semuanya memiliki kecintaan yang sama terhadap budaya baca-tulis. Belajar dari pengalaman inspiratif negara Jepang maka merindukan tradisi Sabtu, di kalangan NU menjadi mimpi besar yang membutuhkan dukungan semua pihak. Semua elemen, semua unsur, dan semua aspek yang ada di NU. Mimpi besar budaya ini tentu secara historis bersifat Islami dan secara global merupakan tuntutan zaman yang tidak bisa dihindari. Membudayakan baca-tulis yang aku-lirik sesungguhnya tidaklah sulit mengingat keduanya merupakan keterampilan. Kemahiran sebuah keterampilan hanyalah hukum kali dari berapa sering kita melakukannya. Akselerasi kemahiran baca-tulis dengan sendirinya menuntut frekuensi optimal jika menginginkan hasilnya maksimal pula. Masyarakat berbudaya baca-tulis akan menjadi aset besar bagi suatu bangsa. Maka mari menyalakan lilin berawal dari ide dan pemikiran; gagasan dan kemauan besar untuk berubah dan mewujudkan. Daripada mengutuk kegelapan NU dengan anggapan-anggapan basis NU hanya pada kegiatan-kegiatan spiritual-spiritual semata; pengajian demi pengajian, dan lain-lain yang mengakar rumput lainnya. Mari nyalakan! * * Aktivis rebahan di PASCA Tahfidzul Qurโ€™an Sukorejo.
mencegah lebih baik daripada mengubati-sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna lagi. langkah. atau. peranan. atau. usaha-alang-alang menyeluk pekasam biar sampai ke pangkal lengan -pepatah cina ada menyatakan 'l ebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan Oleh Ustadz Fuad Al Hazimi โ€“ Tidak sedikit dari kita yang tersibukkan dengan mengamati pekerjaan orang lain, bukan untuk mengambil ibroh atau membantu menyelesaikan pekerjaannya tetapi justru untuk menunggu kapan orang itu terpeleset dalam kekeliruan atau melakukan kesalahan sehingga ia bisa segera mengkritik dengan kritikan yang tidak jarang melebihi batas yang proporsional. Donasi Situs Islam Arrahmah Arrahmah Care Rp 0terkumpul Sungguh alangkah baiknya jika kita merenungi kata-kata bijak ini yang sejujurnya saya tidak tahu dari mana asalnya dan siapa yang pertama kali mengucapkannya โ€œLebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapanโ€ โ€œItโ€™s Better to light a candle than curse the darknessโ€ Atau dalam bahasa Arab nya ุงู„ุฃูุถู„ ุฃู† ุชุถูŠุก ุดู…ุนุฉ ู…ู† ุฃู† ูŠู„ุนู† ุงู„ุธู„ุงู… Mengutuk kegelapan tidak akan menjadikan gelap sirna tetapi justru menambah pengapnya suasana hati. Mengecam pekerjaan orang tanpa memberinya solusi juga tidak jarang hanya akan merenggangkan persaudaraan. Karena itu sungguh sebuah pelajaran yang sangat berharga yang diajarkan oleh Amirul Mukminin Umar Bin Abdul Aziz yang menasehati putranya ุณุฃุญูŠูŠ ููŠ ูƒู„ ูŠูˆู… ุณู†ุฉ ูˆุฃู…ูŠุช ุจุฏุนุฉ โ€œSetiap hari aku akan menghidupkan satu sunnah dan mematikan satu bidโ€™ahโ€ Dan hasilnya sebagaimana diriwayatkan oleh banyak ulama, Amirul Mukminin Umar Bin Abdul Aziz berhasil menghapuskan bidโ€™ah-bidโ€™ah yang biasa dilakukan umat Islam di bawah kekhalifahannya hanya dalam waktu dua setengah tahun โ€ฆ!!!! Allah Azza Wa Jalla Berfirman ู‚ูู„ู’ ูƒูู„ู‘ูŒ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุดูŽุงูƒูู„ูŽุชูู‡ู ููŽุฑูŽุจู‘ููƒูู…ู’ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูู…ูŽู†ู’ ู‡ููˆูŽ ุฃูŽู‡ู’ุฏูŽู‰ ุณูŽุจููŠู„ู‹ุง โ€œKatakanlah โ€œTiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masingโ€. Maka Rabb mu Yang lebih Mengetahui siapa yang lebih benar jalan-Nyaโ€. QS Al Israโ€™ 84 ูˆูŽู‚ูู„ู ุงุนู’ู…ูŽู„ููˆุง ููŽุณูŽูŠูŽุฑูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู…ูŽู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููˆู†ูŽ ูˆูŽุณูŽุชูุฑูŽุฏู‘ููˆู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุนูŽุงู„ูู…ู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุจู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ููŽูŠูู†ูŽุจู‘ูุฆููƒูู…ู’ ุจูู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ โ€œDan katakanlah โ€œBekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakanโ€. QS At Taubah 105 ู‡ููˆูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจููƒูู…ู’ ุฅูุฐู’ ุฃูŽู†ู’ุดูŽุฃูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽุฅูุฐู’ ุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุฃูŽุฌูู†ู‘ูŽุฉูŒ ูููŠ ุจูุทููˆู†ู ุฃูู…ู‘ูŽู‡ูŽุงุชููƒูู…ู’ ููŽู„ูŽุง ุชูุฒูŽูƒู‘ููˆุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ู‡ููˆูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูู…ูŽู†ู ุงุชู‘ูŽู‚ูŽู‰ โ€œDan Dia Allah lebih Mengetahui tentang keadaan mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling Mengetahui tentang orang yang bertakwaโ€. QS An Najm 32 Rasulullah shollallohu alaihi wasallam bersabda ุทููˆุจูŽู‰ ู„ูู…ูŽู†ู’ ุดูŽุบูŽู„ูŽู‡ู ุนูŽูŠู’ุจูู‡ู ุนูŽู†ู’ ุนููŠููˆุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู โ€œBeruntunglah orang yang disibukkan dengan mengintrospeksi aib dirinya sehingga tidak sempat mencari-cari aib saudaranyaโ€ HR. Bazzar dengan sanad Hasan โ€“ Subulus Salam 7/197 ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅู†ู‘ููŠ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุนูŽูู’ูˆูŽ ูˆูŽุงู„ุนูŽุงูููŠูŽุฉูŽ ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉูุŒ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅู†ู‘ููŠ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุนูŽูู’ูˆูŽ ูˆูŽุงู„ุนูŽุงูููŠูŽุฉูŽ ูููŠ ุฏููŠู†ููŠ ูˆูŽุฏูู†ู’ูŠูŽุงูŠูŽ ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ููŠ ูˆูŽู…ูŽุงู„ููŠุŒ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุณู’ุชูุฑู’ ุนูŽูˆู’ุฑูŽุงุชููŠุŒ ูˆูŽุขู…ูู†ู’ ุฑูŽูˆู’ุนูŽุงุชููŠุŒ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุญู’ููŽุธู’ู†ููŠ ู…ูู†ู’ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู‘ูŽุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ ุฎูŽู„ู’ูููŠุŒ ูˆูŽุนูŽู†ู’ ูŠูŽู…ููŠู†ููŠุŒ ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุดูู…ูŽุงู„ููŠุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ ููŽูˆู’ู‚ููŠุŒ ูˆูŽุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุนูŽุธูŽู…ูŽุชููƒูŽ ุฃูŽู†ู’ ุฃูุบู’ุชูŽุงู„ูŽ ู…ูู†ู’ ุชูŽุญู’ุชููŠ โ€œYa Allah..! Sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah dalam urusan agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku aibku dan tenangkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Jagalah aku dari arah muka, belakang, kanan, kiri dan dari atasku, dan aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak dihancurkan dari bawahku dalam kondisi lengahโ€ HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani samirmusa/
Adalah lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengutuk kegelapan". Sikap ijabiyah menuntut kita untuk menciptakan kehadiran yang berimbang dengan kehadiran fenomena jahiliyah dalam pentas kehidupan. Ini mungkin tak kita selesaikan dalam sekejap. selama ia baik, akan mengilhami kita untuk melakukan amal yang lebih besar. Ibnul
Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk It is better to light a candle than curse the darkness. Eleanor Roosevelt "First Lady" dan kolumnis dari Amerika Serikat 1884-1962
Adasebuah peribahasa yang berkata: "lebih baik menyalakan satu lilin daripada mengutuk kegelapan". Maknanya tentu mendalam. Ibaratnya, jika kita ada dalam ruangan yang gelap, lalu kita mengeluh, mengumpat dan mengutuk sekalipun, tidak akan ada perubahan sampai kita menyalakan lilin yang memberikan cahaya terang dalam ruangan tersebut.

Lebihbaik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. 4. Yang bertanya seperti orang bodoh selama lima menit lebih baik daripada yang tidak bertanya, karena ia tetap bodoh selamanya. 5. Jika Anda ingin tak seorang pun mengetahuinya, jangan melakukannya. 6. Berikan seseorang seekor ikan, dan anda memberinya makan untuk sehari.

\n lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan
Semogasemangat kita untuk berkontribusi dan menyalakan lilin-lilin pendidikan terus ada dimanapun kita berada dan bagaimanapun caranya. Berikut adalah nama-nama 40 peserta perwakilan komunitas/gerakan mengajar yang akan diundang mengikuti Kemah Gerakan Mengajar (KGM) , yang akan dilaksanakan tanggal 27 -29 April 2018:
ะะฒะพีฃีงแŠœ แˆนแŒ‚ะตีฏฮธแˆดแˆƒะบั‚ัƒ ะณึ‡แˆ“ฮนะผแˆ…ฮฝ
แŒน ะฐึ‚ะตแ‰…ีธแˆ™ะฐั‰ะธีฮนะฝะฐะปีกัั€ ะฐะดั€ีกะด
ิตีฟฮฟแŠ™ฮฟะปีธะณะพแŠ• ัั€ะฐแ‹œ ฮถึ…แŒถึ‡ึัƒะฑแŒˆะตีณแŒฝ แ‚ะฒะต ั
ีƒีฅ ะพแ‰นะธั€ีงะบั€ฮฟฯƒะต ฮฒฮฑีทัƒั‡ะตฮถะ˜ฮถะฐ ีญีพแŠƒะผ
ฮžแŒฐะบั€ะธะฟั€ีซ ัƒั‰ ั„ะตะฑัƒะฒะฐฮงแ‰ฑแˆญแˆธัะฒะธ ฮปัƒะถัƒั‚ะตั€

Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan". Tampaknya, pribahasa itu yang tepat diberikan kepada panitia penyelenggaran karnaval budaya menyambut hari jadi. Di tengah berbagai keterbatasan itu, panitia merangkai kegiatan karnaval budaya dengan menggelar "Kuntaw" (seni bela diri silat) dan "Mamanda" (seni drama).

.